China Desak Jepang Tinjau Lagi Sejarah sampai Media AS soal Proklamasi

Daftar Isi

Hamas Buka Suara usai Ditemui Menantu Trump Jared Kushner di Mesir

China Kritik Pidato PM Jepang, Desak Tinjau Ulang Sejarah Perang

Laporan Media AS setelah Proklamasi RI: Republik yang Tak Diakui

Jakarta, Sensai Ichiba Indonesia

Perang

Iran

vs

Amerika Serikat

masih menjadi sorotan berita internasional selama akhir pekan panjang.

Cerita sejarah Indonesia terkait Kemerdekaan RI juga terus menjadi perhatian. Berikut kilas berita internasional:

Hamas Buka Suara usai Ditemui Menantu Trump Jared Kushner di Mesir

Kelompok perlawanan di Palestina, Hamas, buka suara usai ditemui menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump sekaligus utusan khusus untuk Timur Tengah Jared Kushner pada Minggu (16/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemimpin Hamas Khalil Al Hayya mengatakan pihaknya akan berkomitmen dengan rencana di Jalur Gaza seperti yang diusulkan Trump di Board of Peac (BoP).

Hamas juga meminta AS untuk menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar menyepakati rencana perdamaian dan rekonstruksi di Jalur Gaza.

China Kritik Pidato PM Jepang, Desak Tinjau Ulang Sejarah Perang

China mendesak Jepang untuk “merenungkan secara mendalam” apa yang disebut Beijing sebagai “kejahatan perang” masa lalu dan memutus hubungan dengan militerisme, pada Senin (17/8).

Desakan itu muncul setelah pidato Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam upacara peringatan korban perang pada Sabtu (15/8) yang menandai 81 tahun menyerahnya Jepang pada Perang Dunia II.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Juan, menilai pidato Takaichi sebagai upaya “memutar balik roda sejarah”. Ia meminta pemerintah Jepang mendengarkan suara rakyat dan komunitas internasional serta tidak melangkah lebih jauh ke arah yang menurut Beijing salah.

Laporan Media AS setelah Proklamasi RI: Republik yang Tak Diakui

Ketika Proklamasi dibacakan oleh Sukarno dan Mohammad Hatta, tidak banyak media asing yang memberitakan kabar tersebut.

Bahkan di tanah air sendiri kondisinya terbilang sepi. Namun setahun setelah proklamasi, media paling berpengaruh di Amerika Serikat, New York Times, membuat laporan situasi yang terjadi.

Tercatat pada terbitan 13 Agustus 1946, media ini menurunkan laporan dengan judul besar “Konflik di Indonesia Menunjukkan Tren Meningkat.”

(rds)

Baca lagi: Praperadilan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Digelar Hari Ini

Baca lagi: Dua Pos Polisi di Surabaya Diduga Dilempar Bom Molotov OTK

Baca lagi: Kementerian ESDM Dorong Tambang Emas Rakyat Dilegalkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: